Jumat, 21 Februari 2014

KEMATIAN ADALAH GURU YANG TERBAIK BAGI KITA


Banyak orang yang menganggap bahwa kematian adalah suatu hal yang sangat ditakuti dan dihindari, bahkan ada persepsi lain yang menganggap bahwa kematian adalah akhir dari segala sesuatu yang berhubungan dengan eksistensi manusia itu sendiri.
Namun, kita harus sadar bahwa kematian adalah peristiwa akbar yang akan menimpa siapa saja yang bernama makhluk hidup. Cepat atau pun lambat, kematian itu pasti akan tiba. Yang membedakan hanya waktu, siapa yang akan dipanggil lebih dulu dan siapa yang masih ditangguhkan. Jatah untuk ke arah panggilan itu masing-masing sudah jelas.
Dalam firman-Nya Allah swt menjelaskan urut-urutan kepastian ini, yang diawali dengan mengingatkan asal-muasal kejadian manusia sbb:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari sesuatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. Kemudian, sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati." (QS Al-Mu'minun: 12-15)
Kita semua ini tidak lain adalah makhluk-makhluk yang sedang pasrah menunggu datangnya al-maut. Suka atau tidak suka. Siap atau pun tidak. Kematian akan datang juga. Mungkin nanti, besok, lusa atau bahkan setelah kita menikmati tulisan ini. 
Karena kesibukan, orang sering dibuat lupa dengan sunatullah ini. Kesibukan sering mengantarkan orang lupa pada jadwal tetap yang pasti akan dialami. Kekagetan biasanya muncul setelah ada sanak-saudara atau tetangga yang meninggal. Pada saat itu baru kembali muncul kesadaran bahwa panggilan bergilir ke alam baka masih terus berlanjut. Undangan kematian masih tatap datang.
Anehnya, banyak informasi kematian yang diterima baik melalui televisi, majalah, maupun koran, sering tidak menggetarkan hati. Bahkan bernilai seperti hiburan? Berita perihal kematian --yang mengerikan sekalipun-- tidak ubahnya dengan berita-berita yang lain seputar kasus politik dan kriminalitas.
Sesungguhnya tidak ada yang istimewa dari peristiwa apapun di dunia ini. mungkin kita seringkali terkejut dengan kabar kematian orang-orang di sekitar kita. Entah itu orang tua kita, keluarga kita, sahabat kita, bahkan tetangga di samping rumah kita yang mungkin tadinya kita lihat dia baik-baik saja atau bahkan sehat wal afiat tanpa kurang satu apapun. Namun tiba-tiba meninggal dengan sebab atau tanpa sebab apapun. Tapi sudahkah kita semua menjadikan kematian orang-orang disekitar kita sebagai An Nadzir (Peringatan) bahwa suatu saat kitapun akan menyusulnya tinggal waktu dan takdir yang berbicara.
Semuanya kembali pada perjalanan akhir yang bersangkutan, adakah nilai iman dan taqwa di dalam hatinya. itulah bekal yang paling baik sekembalinya manusia setelah mengarungi hidup di dunia. Taqwa itulah bekal kembali yang paling baik setelah manusia berpulang ke alam baqa sana. Bila ada bekal takwa berarti ada bekal yang siap dibawanya untuk 'melapor' di hadapan Tuhan.
Mengapa peristiwa kematian tidak banyak mengundang kesadaran? Padahal di sana lengkap terpampang sejumlah mayat yang bergelimpangan, juga dengan uraian-uraian kejadian yang kadang didramatisir media massa sehingga nampak begitu negerikan? Mengapa jadi demikian?
Kejadian seperti itu tidak lain karena manusia telah begitu lelah menghadapi kehidupan ini. Manusia telah disibukkan oleh berbagai kegiatan mencari penghidupan yang membuatnya lupa. Juga dipadatkan oleh masalah yang bertumpuk. Masalah itu setiap hari semakin bertambah banyak. Karena kelelahan itulah hingga informasi yang datangnya dari kampung akhirat bukan bernilai pendidikan dan peringatan lagi.
Menyangkut hal ini, salah seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw, "Ya Rasulullah, pesankan sesuatu kepadaku yang akan berguna bagiku dari sisi Allah." Nabi saw lalu bersabda, "Perbanyaklah mengingat kematian, maka kamu akan terhibur dari (kelelahan) dunia, dan hendaklah kamu bersyukur. Sesungguhnya bersyukur akan menambah kenikmatan Allah, dan perbanyaklah doa. Sesungguhnya kamu tidak mengetahui kapan doamu akan terkabul." (HR Ath-Thabrani)
Ingat pada kematian akan membuat manusia punya kendali. Pangkal dari lupa dan keserakahan sebenarnya bermula dari sini, tidak ingat akan mati. Yang dibayangkan bagaimana bisa hidup lebih lama, bersenang-senang lebih banyak, dan dapat menghabiskan waktunya untuk bersuka-ria dengan leluasa. Kalau ada jatah, bahkan minta umurnya lebih lama hingga seribu tahun!
Yang serakah bertambah keserakahannya, yang rakus semakin rakus dan yang zhalim semakin bertambah-tambah kezhalimannya. Kecenderungan ke arah sana dimiliki oleh siapa saja, lebih terkhusus oleh mereka yang lupa akan al-maut.
Rasulullah saw bersabda, "Cukuplah maut sebagai pelajaran (guru) dan keyakinan sebagai kekayaan." (HR Ath-Thabrani) Seandainya kematian ini telah dipetik sebagai pendidik (guru) hati manusia secara otomatis akan terkendali. Kecurangan, kerakusan, kesombongan dan berbagai bentuk penyakit hati yang bersarang di dada akan dibunuh oleh takutnya pada mati.
Sebagus apapun rupa, pada akhirnya akan binasa. Secantik bagaimanapun istri yang kita miliki, anak yang kita sayangi, perhiasan dan istana yang ada, semua akan ditinggalkan juga. Semuanya akan diakhiri oleh kematian.
Karena hukum pastinya ini Nabiyullah yang mulia saw mengingatkan agar dalam pergaulan kita tidak mudah tertipu oleh bayang-bayang. Kita tidak diperbolehkan memvonis seseorang itu baik atau jahat, beruntung atau celaka. Karena kunci dari semua itu adalah pada ujung perjalanannya.
"Janganlah kamu mengagumi amal seorang sehingga kamu dapat menyaksikan hasil akhir kerjanya." (Ath-Thusi Ath-Thabrani)
Boleh jadi kita sering heran. Tidak jarang orang yang kelihatan baik-baik, rajin beribadah dan bershiyam Ramadhan meninggal dalam keadaan bermaksiat. Sementara di sisi lain kita juga menjumpai kasus yang tidak masuk akal, karena orang yang semula kita katakan brengsek, suka mengganggu lingkungan, bahkan dalam kalkulasi kita tidak pernah ada bayangan bakal mencium bau syurga sekalipun, justru mengakhiri hidupnya dengan husnul-khatimah.
Tapi kasus seperti itu bukan untuk membuat kita ragu dan plin-plan. Pegangan hidup harus jelas. Menegakkan kepribadian Islam sama sekali tidak boleh surut dengan menyebarkan nilai-nilai al-Qur'an dan hadits untuk diri kita dan lingkungan. Karena Allah tetap Maha adil. Kalau Dia memutuskan untuk memberi hidayah terhadap seseorang, maka tentulah ada dari seseorang itu nilai yang baik yang layak sebagai landasan pemberian petunjuk itu. Ketentuan dan kehendak Allah di luar kaidah apapun yang dikenal manusia, hanya saja Dia menunjukkan cara yang bisa dipahami, misalnya dengan kaidah sebab-akibat.
Semua itu terjadi karena kehendak Allah terhadap makhluk-Nya agar sunnah-Nya dipelajari, direnungkan, dan dihayati apa makna-maknanya. Dan yang terpenting agar kita dijauhkan dari akhir kehidupan yang rugi dan sia-sia, suul-khatimah. Marilah kita ingat sekali lagi, bahwa kita akan mati, dan mungkin saja itu terjadi hari ini atau besok pagi.Wallahu 'alam bi showab

Jumat, 14 Februari 2014

NASEHAT IMAM SYAHID HASAN AL BANNA KEPADA PARA PEMUDA

WAHAI PEMUDA!
Sesungguhnya, sebuah pemikiran akan meraih sukses manakala keimanan kepadanya kuat, tersedia keikhlasan di jalannya, semangat untuk memperjuangkannya semakin bertambah, dan ada kesiapan untuk berkorban serta beramal dalam mewujudkannya. sepertinya keempat rukun ini, yakni iman, ikhlas, semangat dan amal merupakan karakter pemuda. sebab sesungguhnya dasar keimanan adalah hati yang cerdas, dasar keikhlasan adalah nurani yang jernih, dasar semangat adala perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Dan, itu semua tidak terdapat kecuali pada diri pada pemuda.
Karena itu, sejak dulu hingga sekarang pemuda merupakan pilar kebangkitan setiap umat, rahasia kekuatan dalam setiap kebangkitan, dan pengibar panji setiap pergerakan.

"Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk." (QS. Al Kahfi: 13)

Dengan demikian, kewajiban kalian sangat banyak, tanggung jawab kalian sangat besar, hak umat yang harus kalian tunaikan semakin berlipat, dan amanat yang terpikul di pundak kalian sangat berat. Karena itu, kalian harus berpikir panjang, beramal banyak, menentukan sikap, maju untuk menjadi penyelamat, dan menunaikan hak-hak umat dari pemuda dengan sempurna.

ALLAHU AKBAR!!! Majulah Wahai Pemuda, Saatnya Kemenangan itu di tangan para pemuda.


Kamis, 13 Februari 2014

ADIL LEBIH DEKAT DENGAN KETAKWAAN

"...Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."(QS.5:8)
*** 
sekilas ayat di atas menggambarkan dengan gamblang bahwa Adil memiliki esensi yang begitu dekat dengan takwa. Sedangkan Takwa sendiri adalah puncak dari segala ibadah yang selalu dirindukan dan diharapkan seorang muslim. Allah selalu mendorong manusia untuk mencapai tingkatan taqwa ini dan kita sebagai manusia berusaha untuk mempertahankannya setelah mendapatkannya. Demikian Allah mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk berpuasa agar mereka bertaqwa (Kitab Suci Alqur'an Al-Baqarah : 183).

Sebab taqwa itu akan menanamkan akhlak mulia pada manusia yang efeknya bukan saja terhadap dirinya sendiri, tapi juga terhadap masyarakatnya. Pada umumnya semua istilah dan pengertian dalam Alqur'an tentang taqwa bermuara pada satu hal yaitu buah ibadah seseorang. Sebagaimana firman Allah dalam Alqur'an berikut ini :

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Baqarah : 21)

Berikut kriteria orang-orang yang bertaqwa berdasarkan firman Allah dalam Alqur'an, Antara lain :

1. Menepati Janji

(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Imran : 76)

2. Menegakkan Keadilan

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Maidah : 8)

3. Bersifat Pemaaf

Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Baqarah : 237)

4. Bersifat Istiqamah, yaitu berkepribadian kuat dan teguh

Bagaimana bisa ada perjanjian (aman) dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin, kecuali dengan orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) di dekat Masjidilharam? maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaklah kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (Kitab Suci Alqur'an. At-Taubah : 7)

5. Tidak mempunyai rasa takut dan duka cita dalam hidup, seperti para wali-wali Allah

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (Kitab Suci Alqur'an. Yunus : 62-63)

6. Sabar, yaitu sifat yang tabah, tahan uji, pantang menyerah dan tidak berputus asa. Sabar dalam beribadah, sabar dalam berjihad, sabar dalam menghadapi musibah, sabar dari perbuatan maksiat yang merajalela dan sabar dari godaan duniawi.

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Imran : 200)

Manusia yang berhasil mencapai derajat taqwa kemudian berusaha mempertahankannya terus, dipandang sebagai manusia yang sukses ibadahnya. Ia laksana sebatang pohon yang baik, yang ditanam serta dipelihara, ia telah berbuah kemudian memberikan kenikmatan kepada manusia. Karena itu Allah menempatkan manusia taqwa sebagai manusia paling mulia disisi dan dalam pandangan-Nya.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Kitab Suci Alqur'an. Al-Hujurat : 13)